Peragaan Busana Batik yang Anti Mainstream, wellcome to the jungle

Peragaan busana biasanya dilakukan ditempat yang cukup baik seperti gedung dan hotel. Tapi apa jadinya jika peragaan busana dilakukan di hutan. Mungkin peragaan ditempat seperti itu pertama kalinya dilakukan di dunia.

Peragaan busana yang anti mainstream itu ternyata dilakukan dinegara kita sendiri loh. Lebih tepatnya di Hutan Wanajati, Desa Tegalrejo tersebut diikuti oleh enam perancang busana nasional, yakni Lia Mustafa, Dany Paraswati, Philip Iswardono, Ratin Kristiani, Amin Hendra, dan Dandy T. Hidayat. Terdapat sekitar 60 busana batik diperagakan. Batik tersebut merupakan hasil karya kolaborasi antara perancang busana dengan siswa-siswi SMKN 2 Gedangsari.

Usut punya usut pagelaran peragaan busana itu dilaksanakan dalam rangka peresmian desa wisata budaya, di Desa Tegalrejo.

peragaan busana batik di hutan wanajati
peragaan busana batik di hutan wanajati

Saking uniknya peragaan busana itu akhirnya menyabet penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri). Menurut manager Muri Sri Widyawati, peragaan busana itu belum pernah dilakukan dimanapun sebelumnya mungkin pertama kalinya di dunia. Penghargaan itu diberikan untuk menghargai karsa dan karya anak bangsa.

peragaan busana batik di hutan wanajati
peragaan busana batik di hutan wanajati

“Ini baru pertama kali di Indonesia dan bahkan di dunia,” kata dia saat menghadiri acara pagelaran busana dalam rangka peresmian desa wisata budaya, di Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Rabu (30/8/2017).

Selain acara peragaan busana ternyata ada juga acara membatik lintas generasi yang diikuti 123 orang.

“Kami akan mencatatkan dua rekor sekaligus yaitu membatik lintas generasi dari usia PAUD hingga lansia dan juga peragaan busana di Wanajati. Keduanya tidak hanya sebagai rekor nasional tapi kami catat sebagai rekor dunia,” ungkap Sri.

Sumber: Solopos.com

KOMENTAR